Konsultan Hak Kekayaan Intelektual

Konsultan Hak Kekayaan Intelektual Atau HKI/hAKI Merupakan Profesi Hukum Yang Menjanjikan Selain Pengacara. Prospek yang cerah telah menarik atensi banyak orang untuk mendalami profesi ini, apalagi menjadi penasehat HKI tidak harus datang dari lulusan di bidang Hukum. Selain itu, jumlah penduduk yang banyak menjadikan Indonesia sebagai target pasar yang potensial untuk investasi berupa hak cipta, merek, paten, hingga desain industri.

6 Poin Penting Untuk Menjadi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual Kompeten

Sementara di sisi lain, belum banyak yang sadar dan paham akan pentingnya hak kekayaan intelektual. Kemudian, persaingan profesi sebagai penasehat HKI juga sangat ketat. Namun, bukan berarti kita tidak bisa menjalaninya dengan baik. Selama kita tahu cara menjadi konsultan yang kompetitif, maka hambatan apa pun dapat dilawan. Lantas, apa saja hal yang mampu membantu seseorang untuk menjadi konsultan HAKI yang kompeten?

Poin penting kesatu yang wajib dimiliki adalah pengetahuan mendalam seputar hak kekayaan intelektual.

Gunawan Suryomucitro selaku konsultan HAKI senior menjelaskan bahwa lisensi menjadi kunci utama bagi mereka yang ingin menjadi konsultan hak kekayaan intelektual HKI profesional. Sertifikat itu pun tidak bisa kita peroleh sembarangan karena kita harus mengikuti ujian yang diawali dengan pelatihan seputar HKI. Langkah ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (4) serta Pasal 4 ayat (1) PP No. 2/2005 tentang Konsultan HKI. Gunawan pun mengatakan kalau peserta ingin lulus dan mempunyai lisensi, maka mereka hars memiliki pengetahuan mendalam, khususnya yang berhubungan dengan teknis perlindungan hukum terhadap HKI.

Kemudian poin kedua yang mesti dimiliki adalah pengalaman atau jam terbang tinggi,

6 Poin Penting Untuk Menjadi Konsultan hki

sebab lisensi saja tidak cukup membantu kita untuk jadi konsultan yang teruji kemampuannya. Pengalaman akan membantu penasehat pemula untuk menghadapi klien dari beragam kalangan dan mengatasi masalah yang menghadang di tengah proses. Untuk mendapatkan pengalaman, seseorang dapat mengajukan magang di kantor yang menerima posisi konsultan HAKI yang sudah punya jam terbang tinggi. Di sana, konsultan pemula pun dapat berguru langsung kepada konsultan senior tentang ilmu seputar hak kekayaan intelektual.

Poin ketiga yang harus menjadi bekal untuk konsultan hak kekayaan intelektual adalah kemampuan memeriksa hasil karya.

Justisiari Perdana Kusuma selaku mantan Ketua Asosiasi Konsultan HKI di Indonesia menjelaskan bahwa seorang penasehat yang menangani HAKI harus teliti atau jeli saat tengah memeriksa hasil kara yang hendak didaftarkan. Dengan begitu, konsultan yang bersangkutan sanggup mengidentifikasi apakah karya dari investor tersebut berhak mendapatkan perlindungan hak kekayaan intelektual atau tidak.

Jika bisa, maka di kategori manakah hasil karya tadi harus dimasukan? Hak cipta, paten, merek, atau desain industri? Kemudian, penasehat HAKI juga bertugas untuk mengajukan atau mendaftarkan karya. Menurut Justisiari, sebelum proses pendaftaran, konsultan harus memeriksa database HAKI yang telah didaftarkan sebelumnya. Hal ini merupakan tindakan antisipasi, karena karya bisa ditolak kalau ternyata sudah ada karya sejenis yang masuk ke dalam database.

Poin keempat yang wajib dikantungi konsultan hak kekayaan intelektual merek adalah jaringan atau relasi yang luas.

6 Poin Untuk Menjadi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual Kompeten

Dalam PP No. 2/2005 telah dijelaskan bahwa penasehat HAKI harus mampu menangani minimal sepuluh pendaftaran dalam satu tahun. Gunawan menganggap hal ini sebenarnya tidak sukar dilakukan, akan tetapi konsultan pemula kerap mendapatkan hambatan saat menjalankannya. Lantas, mempunyai jaringan atau relasi luas dapat membantu mereka yang ingin memenuhi kuota tersebut. Kantor milik Gunawan, misalnya, telah berafiliasi dengan sebuah law firm di London, Inggris, untuk memperluas network tersebut.

Selain itu, relasi luas juga membantu konsultan HAKI yang masih baru untuk menambah calon klien hingga mendapatkan kesempatan untuk datang ke aktivitas-aktivitas penting seperti konferensi berskala nasional maupun internasional. Bukan tak mungkin kalau salah satu dari klien tadi nantinya akan merekomendasikan kita ke rekan kerjanya dan secara tidak langsung relasi kita pun akan semakin berkembang.

Poin kelima , kemampuan menjaga integritas  patut dipelajari para konsultan HAKI

kalau mereka ingin bersaing sehat. Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, kemungkinan klien yang datang berkat rekomendasi akan selalu ada, karena promosi dari mulut ke mulut masih tergolong efektif meski media sosial punya kecepatan yang lebih mumpuni. Bila seorang konsultan hak kekayaan intelektual sudah dijadikan referensi, maka dia harus mampu menjaga atau meningkatkan integritasnya. Jangan sampai klien yang datang dan ingin berkonsultasi malah ragu karena apa yang dibicarakan rekan kerja tentang kita sebagai konsultan HAKI malah tidak sesuai dan mengecewakan.

Bukan hanya kita yang akan malu, tetapi juga orang yang telah menjadikan kita referensi pun ikut menyesal. Jadi, jangan cepat puas kalau seandainya kita sudah punya banyak klien. Seorang konsultan HAKI berpengalaman akan senantiasa menuntut ilmu dan belajar untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan performa kerjanya.

Poin keenam yang harus dimantapkan oleh konsultan hak kekayaan intelektual terdaftar adalah mampu menangani prosedur pendaftaran HAKI sebuah karya.

Dalam hal ini, penasehat HAKI tak hanya cakap dalam mendaftarkan karya untuk mendapatkan perlindungan, tapi juga mampu melakukan proses komersialisasi, merancang perjanjian lisensi, hingga mengelola royalti. Jika ada pelanggakan HAKI yang menimpa seseorang, maka konsultan pun dapat mengambil peran dengan memberi masukan terkait hal-hal yang berkaitan dengan hukum. Bahkan konsultan HAKI juga bisa merangkap sebagai advokat agar proses hukum berjalan lebih efektif selama mengikuti prosedur yang telah ditetapkan pihak terkait.

    Chat WA