Perbedaan UU Merek Lama Dan Baru

Perbedaan UU Merek Lama Dan Baru Terkait Paten Sudah Diwujudkan Dalam Undang-undang Merek Dan Indikasi Geografis Terbaru, yakni UU No. 20/2016. Salah satu perubahan yang dapat Anda temukan adalah aturan terhadap merek yang lebih ketat daripada undang-undang lama, yakni UU No. 25/2001. Jika undang-undang merek lama hanya mengatur brand terkenal ke dalam 3 ketentuan (terdiri dari dua pasal dengan satu penjelasan), maka undang-undang terbaru menambahkannya menjadi 5 ketentuan.

Memahami Perbedaan Undang-undang Merek Lama Dan Baru

Perbedaan UU merek paling signifikan terlihat dalam pembukaan peluang bagi pemegang brand terkenal yang ingin melakukan pengajuan gigatan ke pihak pengadilan kalau mereka menemukan pelanggaran terhadap mereknya. Untuk lebih jelasnya, mari simak pemaparan dari setiap versi undang-undang.

Dalam UU No. 15/2001 pasal 6 ayat (1) huruf b bisa menolak permohonan kalau merek mempunyai persamaan sebagian atau keseluruan dengan merek yang sudah punya nama milik orang lain untuk barang dan/atau produk sejenis. Sementara dalam pasal 37 ayat (2) dijelaskan bahwa menolak permohonan perpanjangan kalau merek memiliki kesamaan secara sebagian maupun keseluruhan dengan merek terkenal lainnya seperti yang tercantum dalam pasal 6 ayat (1) huruf b dan ayat (2). Kemudian pasal 6 ayat (1) huruf b menjelaskan lebih dalam tentang penolakan permohonan tersebut.

Lantas perbandingan pun dilakukan terhadap merek lain yang punya kesamaan dan besar berkat promosi yang gencar, investasi di berbagai negara, hingga adanya bukti pendaftaran merek dagang dari pemiliknya. Jika hal ini belum dianggap cukup, maka Pengadilan Niaga bisa memerintahkan sebuah lembaga mandiri untuk mengadakan survei untuk mendapatkan kesimpulan terkait ketenaran merek yang dijadikan dasar dari penolakan tersebut.

Perbedaan Undang-undang Merek Lama Dan Baru

Sekarang, tengok perbedaan UU merek baru dan lama dari pasal-pasal teranyar dalam UU No. 20/2016.

Dalam pasal 21 ayat (1) huruf b dan c dinyatakan kalau permohonan ditolak kalau merek mempunyai kesamaan sebagian atau keseluruhan dengan b) merek ternama yang jasa dan/atau barang jasanya sejenis; b) merek ternama yang jasa dan/atau barangnya memang tidak sejenis, tapi memenuhi sejumlah persyaratan tertentu.

Kemudian, dalam pasal 83 ayat (2) disebutkan bahwa gugatan dalam ayat (1) yang terkait dengan pelanggaran merek bisa diajukan oleh pemilik merek ternama sesuai putusan pengadilan. Untuk mengetahui lebih dalam tentang perbedaan UU baru dan lama, ada penjelasan dari pasal 21 ayat (1) huruf b yang menjelaskan bahwa penolakan permohonan terhadap merek ternama pihak lain dengan mengamati pengetahuan masyarakat tentang brand tersebut. Selain itu, pengamatan dilakukan terhadap reputasi dari merek yang dikenalkan lewat promosi besar, investasi di sejumlah negara, dan kepemilikan bukti pendaftaran dari pemilik merek.

Pengadilan Niaga akan menunjuk lembaga mandiri yang nantinya akan melakukan survei kalau bukti-bukti yang dikumpulkan belum cukup. Ada pun pemaparan di pasal 76 ayat (2) yang menyatakan bahwa pemilik merek tidak terdaftar meliputi pemiliki beritikad baik, tetapi dia belum terdaftar atau brand yang memang belum masuk daftar.

Sementara itu, penjelasan dalam pasal 83 ayat (2) lebih menekankan kepada pemberian hak untuk meminta gugatan perdata sesuai perbuatan tak terpuji atau curang yang dilakukan pihak lain dengan maksud memberikan proteksi hukum pada pemilik brand terkenal meski belum tercantum dalam daftar. Lewat pemaparan perbedaan UU merek dagang baru dan lama di atas, Anda dapat melihat jelas perubahan yang termasuk dalam UU No. 20/2016.

Pengetahuan seputar pasal-pasal yang berkaitan dengan merek dagang penting bagi Anda yang ingin menjalankan bisnis secara pribadi. Mempelajari perbedaan UU merek baru dan lama akan membantu Anda kalau suatu saat tersandung masalah.

Memahami Perbedaan UU Merek Lama Dan Baru

Merek atau brand merupakan salah satu aset terpenting dalam sebuah bisnis berfungsi sebagai ciri khas produk. Biasanya merek didesain sedemikian rupa agar dikenal dan diingat dalam jangka waktu lama oleh konsumen. Jika konsumen puas, mereka tak akan segan untuk mempromosikan produk sekaligus merek yang Anda buat. Selain itu, merek termasuk ke dalam investasi berharga.

Semakin besar dan baik reputasi sebuah brand, maka semakin tinggi pula nilai dari merek tersebut. Di sisi lain, membangun merek juga bukan perkara mudah; bahkan brand-brand ternama yang sudah berpuluh tahun berdiri pun kerap mengalami goncangan. Lantas, untuk melindungi merek dagang Anda, daftarkan merek tersebut sesegera mungkin, karena undang-undang merek akan memberikan hak eksklusif kepada para pemilik brand.

Tindakan tersebut juga akan mencegah Anda dan merek dari pemasaran merek pihak lain yang mirip atau bahkan identik dengan milik Anda. Anda juga bisa membekali diri dengan memahami perbedaan UU merek brand baru dan lama yang disahkan pada 2016 silam. Jika pendaftaran merek dagang tidak Anda lakukan, maka investasi dalam memasarkan sebuah produk bakal menjadi upaya sia-sia karena para kompetitor bisa dengan sangat sigap memanfaatkannya dan mendaftarkan brand yang sebenarnya Anda buat.

Kemudian, kalau di pasaran ada dua produk dengan merek identik, konsumen akan kebingungan karena tidak tahu mana brand yang asli dan yang palsu. Dalam hal ini, konsumen pastinya lebih memilih merek yang sudah mendapatkan sertifikasi. Anda pasti tidak mau hal ini terjadi, bukan? Jadi, pastikan jangan sampai melewatkan pendaftaran merek dagang Anda.

    Chat WA